Kota Semarang, Kota yang Asing tapi Cepat Akrab

Saya pertama kali menjejakkan kaki di Semarang pada awal 1990-an, saat diterima kuliah di Universitas Diponegoro. Meskipun saya orang Jawa Tengah dan jarak rumah ke kota ini hanya sekitar seratus kilometer, Semarang terasa jauh dan asing. Kalau pergi ke kota besar, saya lebih sering ke Yogyakarta. Bahkan, saya sempat ikut ospek di ISI Yogyakarta sebelum akhirnya memilih Undip. Ke Jakarta pun, rute perjalanan saya tidak pernah melewati Semarang. Maka, ketika akhirnya datang, rasanya seperti memasuki dunia baru yang belum pernah saya bayangkan.

Yang paling menarik perhatian saya di awal adalah logat bahasanya. Bahasa Jawa Semarang terdengar lembut tetapi punya aksen yang unik. Kata “ora” berubah menjadi “rak”, sehingga “ora ngerti” menjadi “rak ngerti”. Selain itu, penduduk Semarang gemar menggunakan “he eh” dengan vokal “e” seperti pada kata “rem”, dan sering menambahkan “to ya” di ujung kalimat. Maka, ucapan “he eh to ya” terdengar di mana-mana—di warung, di kampus, bahkan di angkot. Awalnya saya kesulitan mengikuti ritmenya, tetapi lama-lama logat itu terasa akrab, seperti lagu lama yang mulai saya hafal tanpa sadar.

Soal transportasi, Semarang adalah kota yang efisien. Rute angkot dan bus kotanya sangat teratur. Dua titik mana pun di dalam kota, bisa dijangkau dalam waktu sekitar tiga puluh hingga empat puluh menit saja. Di Yogyakarta, bus Aspada terkenal lama dan rutenya berputar-putar. Tapi di Semarang, angkot terasa hadir di setiap sudut. Tidak heran kalau sepeda motor saat itu belum terlalu banyak. Yang unik, orang Semarang menyebut angkot sebagai “Daihatsu”. Saya sempat bingung mendengar teman kos berkata, “Nanti naik Daihatsu aja.” Saya kira maksudnya mobil pribadi, ternyata memang begitu sebutan lokalnya.

Salah satu tempat yang paling saya sukai adalah Perpustakaan Daerah di Jalan Sriwijaya. Gedungnya sejuk dan tidak terlalu ramai. Di sana, saya menemukan banyak hal yang kemudian membentuk minat baca saya. Novel-novel Sidney Sheldon yang sedang populer kala itu tersedia hampir lengkap. Di pojok anak-anak, saya membaca komik Asterix sampai hampir tamat seluruh seri. Bagian anak-anak dibuat lesehan, jadi bisa membaca sambil tiduran. Sungguh pengalaman sederhana tapi membahagiakan. Koleksi koran lama dari tahun 1950-an pun tersedia. Saya sering iseng membuka-buka lembaran berita masa lampau, seolah menyelinap ke masa sejarah yang diam. Pernah suatu kali, di taman dekat perpustakaan, ada pameran “kartun tiga dimensi”. Sulit dijelaskan bentuknya, tapi saya masih ingat tawa pengunjung yang menular hingga kini.

Soal hiburan, bioskop di Semarang waktu itu melimpah dan harganya masih terjangkau. Saya yang bukan mahasiswa kaya, bahkan tidak punya motor, masih bisa menonton dua kali sebulan di 21. Film-film seperti Dick Tracy, Kungfu Master, hingga Basic Instinct pernah saya tonton di sana. Harga tiket sekitar Rp1.700, sama dengan harga majalah Tempo versi mahasiswa. Sebagai perbandingan, mi ayam semangkuk masih Rp400. Kadang saya menonton di bioskop lain, yang bukan sineplek. Pernah suatu malam, saya menonton di sebuah bioskop bernama Bahari—kalau tidak salah. Saat masuk, langit mendung. Ketika film selesai dan lampu dinyalakan, bagian depan dekat layar ternyata sudah tergenang air setinggi betis. Rupanya hujan deras disertai angin besar sedang melanda Semarang. Pulangnya susah cari angkot, akhirnya saya pulang dengan angkot yang sesak, basah, dan penuh tawa pasrah mahasiswa.

Soal makan, Semarang tak pernah mengecewakan. Di dekat kos saya di kawasan Pleburan, setiap pagi ada penjual mi kopyok, sore hari ada soto Semarang, dan malamnya mi goreng Purwodadi. Ketiganya seperti teman harian saya. Mi kopyok yang sederhana, dengan lontong, tauge, dan kerupuk, harganya sangat murah. Soto bening di belakang Perpustakaan Pusat Undip pun legendaris. Rasanya segar, gurih, dan cepat habis. Biasanya pukul sembilan atau sepuluh pagi sudah tidak kebagian. Kalau beruntung menginap di rumah teman asli Semarang, ibunya sering membelikan tahu isi rebung dari Pasar Johar. Rasanya khas dan gurih. Di sore hari, jagung bakar menjadi ritual wajib. Awalnya deretan pedagang jagung ini ada di Simpang Lima, lalu digusur ke depan Bank Indonesia di Jalan Imam Bardjo, dan belakangan pindah lagi ke sekitar Telogorejo. Bagi kami, jagung bakar di sore hari adalah semacam jeda sebelum malam datang.

Ada pula kenangan kecil yang lucu di sekitar kampus. Di samping Undip Pleburan, ada kampus taruna pelaut niaga. Pertama kali melihat seragam mereka, saya sempat tertawa: dasi dimasukkan ke dalam baju, tapi memakai celana pendek. Tapi jangan macam-macam dengan mereka—taruna pelaut terkenal tangguh, bahkan sering bersitegang dengan taruna Akademi Kepolisian. Di masa itu, isu tawuran antartaruna cukup sering terdengar.

Kami, mahasiswa Undip, punya fasilitas kolam renang gratis di kompleks Stadion Diponegoro. Saya lupa seminggu berapa kali boleh masuk, tapi sempat beberapa bulan saya rajin berenang di sana. Sayangnya, saya kemudian terkena penyakit kulit karena airnya kurang bersih. Setelah sembuh, saya dan teman-teman pindah renang ke Jatidiri. Harus membayar dan menumpang teman yang punya motor, tapi airnya jernih dan aman.

Kampus Pleburan letaknya strategis, hanya sekitar satu kilometer dari kantor Gubernur dan DPRD. Banyak mahasiswa yang kos di sekitar situ dan ke kampus cukup berjalan kaki. Maka, jika ada aksi protes, lokasinya mudah dijangkau. Namun pada masa itu, demonstrasi mahasiswa sangat dibatasi. Saya hanya sekali ikut demo, yakni menentang SDSB atau porkas. Sisanya, kami lebih sering berdiskusi diam-diam di warung kopi.

Udara Semarang terkenal panas. Duduk di bawah pohon pun kadang tetap berkeringat. Di kos, saya akhirnya terbiasa tidur bertelanjang dada. Tapi justru dari panas itulah, banyak hal hangat yang tersimpan dalam ingatan. Tentang suara angkot yang bersahutan, aroma soto pagi, jagung bakar sore, dan logat “he eh to ya” yang masih terngiang sampai sekarang. Semarang mungkin dulu terasa asing, tapi perlahan menjelma rumah kedua yang mengajarkan arti kedewasaan dalam kesederhanaan.

Post Comment