Kota Semarang itu Unik dan Menarik
Catatan Persepsi tentang Wajah-Wajah Kota
Setiap kota besar tumbuh dengan batas administratifnya sendiri. Namun, batas itu tak selalu sejalan dengan rasa yang dibentuk oleh sejarah, pergaulan, serta kebiasaan hidup masyarakatnya. Semarang, dengan segala lapisan kisah dan topografi yang khas, tampak memiliki wilayah-wilayah yang lebih ditentukan oleh jiwa dan suasana daripada garis peta resmi.
Bagi saya, daerah Ngesrep dan kawasan sekitar Taman Tirto Agung, meskipun secara administratif termasuk Kecamatan Banyumanik, telah menjadi bagian dari Tembalang secara “rasa.” Denyut kehidupannya mengikuti ritme mahasiswa, kampus, dan suasana urban yang lebih dinamis. Begitu pula Jatingaleh, Gombel Lama, serta Gunungpati yang memiliki karakter unik; bahkan Boja di Kendal terasa berjiwa Gunungpati. Kawasan Kota Lama, Srondol, Jangli, hingga area universitas, semuanya seperti dunia kecil dengan lingkar sosialnya masing-masing.
Kawasan dan Lingkar Sosial
Setiap kawasan memiliki ruang sosial tersendiri. Di dalam satu lingkungan, orang-orang berinteraksi dengan cara khas yang membentuk karakter kawasan itu. Semarang bagian barat, timur, dan selatan pun saya rasakan memiliki “jiwa” yang berbeda.
Daerah “Bawah Sigar Bencah”, misalnya, menurut saya sudah termasuk Semarang Timur. Kawasan di utara hingga Kaligawe pun terasa masih satu napas dengan bagian timur kota. Bahkan Pucang Gading, meskipun berada di wilayah Kabupaten Demak, tetap beraroma Semarang karena letaknya yang menempel langsung di sisi timur kota.
Saya pernah melihat sebuah meme yang membagi Semarang berdasarkan persepsi warga: Banyumanik disebut “Exit Tol,” Tembalang bagian atas disebut “UNDIP,” Gunungpati sebagai “UNNES,” dan Bendan identik dengan “UNIKA.” Dalam bayangan saya, kawasan perumnas dan perumahan modern dapat dianggap sebagai wilayah tersendiri di dalam tubuh kota. Lingkungan perumahan memiliki atmosfer sosial yang berbeda dari permukiman lama yang tumbuh secara alami.
Penduduk perumahan tidak selalu berasal dari keluarga Semarang asli. Mereka membawa warna budaya dari daerah asalnya masing-masing. Sebaliknya, warga di pemukiman lama biasanya lebih memiliki ikatan emosional dan kebanggaan terhadap budaya Semarangan. Mereka mengenal kota ini tidak hanya dari alamat, tetapi dari rasa dan kebiasaan yang diwariskan turun-temurun.
Batas Imajiner Kota
Dalam pandangan pribadi saya, batas antara Semarang Timur dan Tengah terletak di ruas jalan tol dari Banyumanik hingga Kaligawe. Wilayah di timur tol, terutama sebelum Masjid Agung, masuk dalam Semarang Timur, sedangkan daerah di sisi barat dan timur tol setelah masjid juga masih terasa sebagai bagian dari timur kota.
Semarang Utara adalah kawasan dekat pelabuhan, PRPP, dan wilayah pesisir yang berdekatan dengan laut. Semarang Barat mencakup daerah Jatingaleh bagian barat, Bendan, hingga Tugu Soeharto. Bahkan Kota Kendal terasa seperti perpanjangan dari Semarang Barat—sebagaimana Pucang Gading menjadi perpanjangan Semarang Timur.
Batas antara Semarang Barat dan Tengah, bagi saya, berada di sekitar Kuil Sam Poo Kong. Menurut kisah yang beredar, dahulu Sungai Kaligarang jauh lebih lebar. Kapal anak buah Laksamana Cheng Ho pernah salah masuk muara dan menabrak bukit karang di sekitar kuil itu. Sebagian awak kapal kemudian menetap dan membangun tempat ibadah yang kini dikenal sebagai Sam Poo Kong.
Mereka dipercaya turut membantu Kerajaan Demak membangun kapal besar ketika kawasan Bergota masih berfungsi sebagai pelabuhan di tepi laut. Wilayah barat Semarang dulunya adalah teluk yang kemudian menjadi daratan akibat endapan dan pendangkalan. Dari sinilah muncul dua proyek besar peninggalan kolonial—Banjir Kanal Barat dan Timur—yang dirancang untuk menahan banjir, sama seperti di Batavia.
Perbedaan Karakter dan Cerita Rakyat
Perbedaan karakter antara Semarang Barat dan Timur terasa jelas. Keduanya memiliki kawasan industri, namun Semarang Barat tampak lebih ramai dan berkembang. Industri di timur lebih banyak menyerap tenaga kerja dari wilayah Demak seperti Mranggen dan Pucang Gading, sedangkan industri di barat menarik pekerja dari sekitar kota dan jalur Pantura bagian barat.
Daerah Tugu dan Manyaran jarang saya kunjungi kecuali ketika bepergian ke arah Jakarta. Di Tugu terdapat Candi Tugu yang konon dianggap sebagai batas Majapahit dan Pajajaran, meskipun jaraknya jauh dari Sungai Pamali. Di sana pula pernah beredar kisah tentang “patok kuburan” yang tidak bisa dipindahkan—padahal hanya patok jalan lama yang kemudian diselimuti legenda rakyat.
Cerita semacam ini memperlihatkan bagaimana imajinasi mistis masyarakat bisa melahirkan kisah yang diwariskan turun-temurun, menciptakan lapisan baru dalam narasi sejarah lokal.
Gerbang dan Arah Perjalanan
Semarang Barat bagi saya adalah gerbang menuju Jakarta dan kota-kota besar di barat Pulau Jawa. Semarang Timur, terutama bagian utara, menjadi pintu ke jalur Pantura, Muria, dan Surabaya. Dari selatan, jalan bercabang ke arah Yogyakarta dan Solo melalui Ambarawa atau Salatiga, lalu dapat menyambung ke kawasan pegunungan Dieng lewat Temanggung atau Bandungan—daerah yang dikenal dengan vila-vila peristirahatan dan kebun sayurnya.
Letak geografis yang strategis menjadikan Semarang Barat lebih ramai oleh arus logistik. Dahulu, banyak anak punk datang ke Semarang dari arah barat, bahkan pada masa lebih awal para pedagang keliling dari Jawa Barat yang disebut “Mandring” telah mencapai kawasan Muria. Kota-kota kecil di jalur barat menjadi tempat persinggahan bagi kendaraan barang dan penumpang sebelum melanjutkan perjalanan melewati Alas Roban hingga ke Cirebon dan Karawang—yang dalam pandangan saya sudah menjadi “wilayah Jakarta Raya.”
Terminal Mangkang menjadi simbol gerbang barat Semarang. Bangunannya besar, dengan kubah mirip masjid di tengahnya. Pernah suatu masa terminal itu sepi karena bus antarprovinsi enggan masuk, lebih memilih menurunkan penumpang di luar, hingga muncul “terminal bayangan.” Di sisi timur, Terminal Terboyo sering terendam rob sehingga tidak nyaman bagi penumpang. Sementara di selatan, Terminal Banyumanik yang kecil lebih sering dilewati bus di pinggir jalan.
Kebiasaan ini menunjukkan karakter khas warga Semarang—lebih menyukai cara praktis dan cepat daripada mengikuti aturan formal.
Penutup: Kota yang Dikenali Lewat Rasa
Bagi saya, Semarang Barat menggambarkan kawasan industri yang sibuk dan padat, menjadi jalur utama ke Jakarta dan kota-kota barat Jawa. Semarang Timur menjadi gerbang pantai dan perdagangan, sementara Semarang Selatan menjadi jalan menuju dataran tinggi dan kota budaya di pedalaman Jawa.
Catatan ini bukanlah peta administratif, melainkan peta rasa—sebuah kesan pribadi tentang Semarang yang lahir dari perjalanan, pengamatan, dan percakapan sehari-hari. Kota ini hidup bukan hanya karena bangunan dan batas wilayahnya, tetapi karena ingatan kolektif, pergaulan, dan persepsi yang membentuk wajahnya dari masa ke masa.



2 comments